Senin, 27 Oktober 2008

DZIKIR THARIQAT QADIRIYYAH NAQSYABANDIYYAH

Thariqat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah menggunakan methoda dzikir untuk mencapai ma`rifatullah. Dalam hal ini thariqat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah memadukan dua methoda dzikir, yaitu dzikir yang diucapkan dengan keras (dilisankan), mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah. Sedangkan dzikir sirri adalah dzikir didalam hati menggunakan dzikir Ismu Dzat.
Dzikir jahar dilaksanakan setiap selesai shalat fardlu, sekurang-kurangnya 165 kali. Bahkan sesungguhnya kapan saja kita harus berdzikir menyebut Asma Allah sebanyak-banyaknya (QS Al-Ahzab : 41).
Ketika melaksanakan dzikir, usahakan seluruh kiblat hati dan pikiran kita tertuju kepada Allah, tidak terganggu dengan lintasan-lintasan hati dan pikiran yang dapat mengganggu ke-khusyu-an kita saat berdzikir. Usahakan seluruh tubuh kita, jiwa dan raga, turut merasakan getaran dzikir Laa ilaaha illallah. Jadi seluruh tubuh terisi dengan kalimat dzikir.
Dzikir sirri diucapkan didalam hati, hanya saja dzikir ini dilaksanakan tanpa mengenal batas waktu, tempat dan keadaan. Selama jantung masih berdetak, selama nafas masih berjalan, selama darah masih mengalir, baik dalam keadaan duduk, berdiri, bahkan dalam keadaan tidur pun kita harus terus berdzikir (dzikir sirri adalah pekerjaan ruh; ruh itu tidak pernah tidur, jadi harus terus berdzikir). Firman Allah tentang hal ini diantaranya :
“Maka berdzikirlah kepada Allah pada waktu berdiri, duduk, dan pada waktu berbaring” (QS 3 : 103)
Dzikir akan berbekas apabila dilaksanakan dengan istiqamah, penuh adab, serta menghadirkan rasa hati yang penuh. Hasil tertinggi dalam dzikir adalah ke-fana-an terhadap dirinya, serta segala sesuatu selain Allah, sehingga yang terpandang, yang tercium, yang terdengar, yang dilisankan oleh lidah dan mulut hatinya, hanya Allah semata dengan penuh rasa kerinduan, rasa cinta kepada-Nya, dia telah larut didalam Allah.
Adapun cara melaksanakan tawajjuh dengan dzikir sirri, yaitu dilakukan sambil menahan nafas (mengatur jalannya nafas), mulut dirapatkan, mata dipejamkan, lidah dilipat ke langit-langit mulut, serta tidak boleh ada bagian tubuh yang bergerak, harus seperti seekor kucing mengintai tikus, tidak bergoyang meskipun hanya selembar bulu. Karena dzikir sirri pada saat tafakkur (tawajjuh) adalah pekerjaan ruh, bukan pekerjaan jasmani. Kalimat dzikir itu harus dipusatkan didalam hati (jantung), kemudian dirasakan mengalir ke seluruh tubuh, dari ujung rambut sampai ke ujung-ujung jari ketika mengeluarkan nafas. Selanjutnya tarik lagi nafas itu perlahan-lahan, kemudian nafas ditahan, pada saat itu mengucapkan kalimat dzikir Ismu Dzat, apabila sudah tidak kuat menahan nafas, nafas pun dikeluarkan lagi dengan halus, perlahan-lahan dialirkan ke seluruh bagian tubuh, begitu selanjutnya.
Saat bertawajjuh (tafakkur), hayati betapa besar kekuasaan Allah, betapa besar pula kasih sayang-Nya. Sudah tak terhitung berapa banyak karunia yang telah dilimpahkan kepada kita, maka dengan begitu akan tumbuh jiwa tauhid dan rasa cinta yang mendalam kepada-Nya.
Seperti telah dikatakan diatas, bahwa thariqat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah, adalah perpaduan dari dua methoda dzikir, yaitu dzikir jahar dan dzikir sirri. Ketika melaksanakan dzikir pada saat mengucapkan Ilallah harus dipukulkan dengan tekanan yang sangat keras ke dalam hati sanubari. Sehingga dari kedua kalimat dzikir tersebut terjadi benturan di dalam hati. Terjadinya benturan itu seperti palu godam menempa besi, yang akan menimbulkan percikan-percikan api. Begitu pula benturan kalimat dzikir akan memercikkan cahaya-cahaya ke-Ilahi-an yang sedikit demi sedikit akan membersihkan karat-karat hati. Apabila hal itu dilaksanakan terus menerus dengan tekun disertai keikhlasan, maka hati akan diterangi oleh Nurrullah (cahaya Illahiyyah). Maka hati pun menjadi bening kemilau. Dengan hati yang bening penuh cahaya Illahiyyah, akan tersingkap rahasia haqiqat Allah dan gerbang ma`rifat pun telah terbuka lebar atas ridla Allah.
Untuk selanjutnya dengan tuntunan hati yang bening, akan mengejawantahkan Sifat-sifat Allah, yang bijaksana, pengasih penyayang, sabar, jujur, adil dan sebagainya, seirama dengan akhlaq yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Dengan begitu terbentuklah manusia sempurna (insan kamil), yang menjalankan tugasnya sebagai wakil Allah di dunia, yang membuahkan rahmatan lil alamin.
Semoga pengikut ajaran thariqat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah menjadi umat Nabi Muhammad Saw yang terpilih oleh-Nya.

Bandung, 4 Juli 2007

Oleh :

Masna Mulyana

Tidak ada komentar: